JJakarta (2/7). Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi, generasi muda didorong untuk tidak sekadar menjadi penikmat konten, tetapi mampu bertransformasi menjadi kreator yang produktif. Guna mewujudkan hal tersebut, sebanyak generasi penerus (generus) LDII Jakarrta Serlatan, rentang usia 16 hingga 22 tahun mengikuti pengajian dan edukasi bertajuk “Kemandirian Melalui Bisnis Digital” di Gedung Serba Guna (GSG) Bina Insan Mulia, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan ini secara khusus dirancang untuk memfasilitasi para remaja agar mampu mengelola media sosial secara positif. Langkah edukatif ini sekaligus menjadi wujud nyata penanaman salah satu dari 29 Karakter Luhur Generus, yaitu karakter mandiri.
Dalam agenda tersebut, para peserta dibekali wawasan mengenai berbagai peluang bisnis digital yang ramah bagi pemula, mulai dari ekosistem affiliate marketing, admin media sosial, live streamer, hingga video editor.
Praktisi bisnis digital sekaligus narasumber utama kegiatan, Sella Oncel, memaparkan bahwa remaja saat ini berstatus sebagai digital native yang tumbuh dan melebur bersama teknologi. Ia menekankan, pengenalan bisnis digital sejak dini bukan sekadar iming-iming “cepat kaya”, melainkan upaya strategis untuk membangun pola pikir berbasis pemecahan masalah (problem solving).
“Karakter mandiri di era digital sangat krusial karena arus informasi bergerak sangat cepat dan bebas. Kemandirian yang dimaksud meliputi inisiatif belajar otodidak (self-directed learning), kedisiplinan mengelola waktu dengan membatasi scroll media sosial yang tidak produktif, sikap kritis menyaring informasi, hingga kemampuan manajemen finansial dasar,” urai Sella.
Lebih lanjut, Sella berpesan agar para pemuda berani memulai langkah kecil tanpa harus tersandera oleh keterbatasan modal dan alat. Modal ponsel pintar dan koneksi internet dinilai sudah cukup untuk memulai karya.
“Jangan hanya menjadi penonton atau konsumen di era digital, tapi jadilah pencipta dan pemain. Jangan takut gagal, karena di usia remaja, kegagalan adalah harga kelas pembelajaran yang paling murah. Manfaatkan teknologi sebagai alat mencapai cita-cita, jangan malah dikendalikan oleh teknologi,” tegasnya memotivasi peserta.
Di tempat yang sama, Ketua Pelaksana Kegiatan, Ariel Luthfi, mengungkapkan bahwa pemilihan tema ini sangat relevan dengan tingginya penetrasi media sosial di kalangan anak muda. Pihaknya ingin menggeser paradigma gawai yang identik dengan sarana hiburan menjadi mesin penggerak usaha produktif.


Ariel pun mengapresiasi antusiasme para peserta. Terlebih, saat diskusi berlangsung, terungkap bahwa sebagian peserta rupanya telah mulai terjun sebagai affiliate marketer, dropshipper, hingga pelaku usaha jasa di media sosial.
“Kehadiran narasumber praktisi memberikan insight yang sangat aplikatif bagi mereka. Sebagai tindak lanjut ke depan, kami berencana memfasilitasi kelas lanjutan dalam bentuk workshop khusus. Tujuannya agar ada pendampingan, evaluasi, serta arahan teknis yang berkelanjutan bagi peserta yang sudah mulai berbisnis,” jelas Ariel.
Dampak positif dari edukasi ini langsung dirasakan oleh para peserta, salah satunya Rahma Tamawulan. Ia mengaku materi yang disuguhkan sangat selaras dengan aktivitasnya yang saat ini tengah belajar merintis afiliasi di platform TikTok Shop.
“Setelah mengikuti seminar ini, saya terpacu untuk langsung menerapkan ilmunya, terutama dalam hal pembuatan konten yang lebih kreatif dan konsisten. Saya berharap ke depan jangkauan audiens saya bisa lebih luas, dan bisa berkembang tidak hanya sebagai affiliate, tetapi juga sebagai content creator,” tutup Rahma. (*/senja)
