Jakarta Selatan (18/6). Membangun visi Indonesia Emas 2045 ternyata tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, penguasaan teknologi mutakhir, atau pembangunan infrastruktur fisik. Di balik impian satu abad kemerdekaan tersebut, bangsa ini dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih esensial: memastikan generasi penerus memiliki kompetensi tinggi yang berimbang dengan integritas, karakter religius, jiwa kebangsaan, serta kemampuan menjaga persatuan.
Persoalan mendasar inilah yang mengemuka dan dibedah tuntas dalam Forum Tausyiah Kebangsaan bertajuk “Membangun Generasi Muda Profesional, Religius, dan Berjiwa Nasionalis”. Acara strategis ini diselenggarakan oleh DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jakarta Selatan bersinergi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Selatan di Gedung Keumatan MUI Jakarta Selatan.
Forum yang dihadiri sekitar 300 peserta ini tidak sekadar menjadi seremoni peringatan HUT ke-81 RI, melainkan menjadi wadah diskursus konstruktif. Diskusi berkembang menyentuh persoalan riil kehidupan generasi muda saat ini, mulai dari tekanan akademik, kerasnya tuntutan dunia kerja, pusaran korupsi dan suap, derasnya arus informasi digital, hingga tantangan mempertahankan nilai luhur agama dan nasionalisme.
Indonesia Emas Tak Datang Sendiri
Hadir sebagai keynote speaker, Wakil Ketua MPR RI, H. M. Hidayat Nur Wahid, menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 harus dirintis sedini mungkin. Generasi muda diwanti-wanti agar tidak hanya pasrah menjadi penonton arus perubahan zaman, melainkan harus menempa kapasitas diri agar siap menjadi aktor utama pembangunan.
“Kita bisa belajar dari para Founding Fathers yang telah mempersiapkan diri jauh sebelum proklamasi. Latar belakang pendidikan mereka sangat beragam, dari pendidikan formal, pesantren, hingga otodidak. Namun mereka punya satu kesamaan, yaitu keseriusan membangun kapasitas diri,” jelas Hidayat.
Ia menekankan, orientasi pendidikan tidak boleh berhenti pada sekadar meraih gelar sarjana. Pendidikan sejati harus melahirkan kompetensi, pembentukan karakter, kedisiplinan, kreativitas, dan yang terpenting, kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Di tengah persaingan global yang kian tajam, kepiawaian akademik dan teknologi wajib dibingkai oleh kompas moral agar tidak disalahgunakan.
“Kemerdekaan adalah nikmat yang harus disyukuri sekaligus amanah yang wajib diisi dengan kontribusi nyata. Identitas keagamaan dan kebangsaan tidak perlu diposisikan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan,” imbuhnya
Merawat NKRI dari Lingkup Terkecil
Menyambung dimensi kebangsaan, Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Selatan, Ragil Tugiman, menyoroti tantangan menjaga kohesi sosial di tengah keragaman. Ia menegaskan bahwa perbedaan adalah fitrah bangsa yang tak semestinya menjadi bibit konflik.
“Persatuan itu bukan berarti harus sama atau seragam. Justru dalam perbedaan itulah wujud asli persatuan kita,” tegas Ragil. Ia juga mengingatkan generasi muda tentang jebakan provokasi di era digital. “Orang pintar bukan hanya mereka yang merasa pintar, tetapi harus ‘pintar merasa’. Jaga jempol, jaga lisan, jaga pertemanan, dan jaga lingkungan.”
Senada dengan hal itu, dari perspektif pertahanan teritorial, perwakilan Kodim 0504/Jakarta Selatan, Kapten Inf. Sunanto, mengingatkan bahwa bela negara tidak selalu identik dengan memanggul senjata. Integritas personal dan menjaga lingkungan terdekat adalah bentuk nyata bela negara era kiwari. “Kalau kita sama-sama saling menjaga, TNI berkolaborasi dengan alim ulama, santri, dan masyarakat, saya yakin lingkungan kita aman dan terkendali. Tugas generasi kini tinggal mengisi kemerdekaan,” ujarnya.
Kolaborasi Menuju Aksi Nyata
Nilai kebersamaan ini turut diamini oleh Ketua MUI Jakarta Selatan, KH Ahmad Nawawi Halim, yang memaparkan transformasi MUI dalam merangkul berbagai elemen umat. Sedikitnya enam ormas Islam dan 12 lembaga keagamaan di Jakarta Selatan kini bersinergi dalam ekosistem kelembagaan MUI, termasuk kolaborasi dengan LDII yang berbuah pada terselenggaranya forum ini.
Dalam sesi dialog interaktif yang dimoderatori oleh H. Eddy Supriyadi (Dewan Penasihat DPD LDII Jaksel), tantangan moral generasi muda dikupas lebih dalam, termasuk urgensi menjaga integritas dari godaan suap dan jalan pintas di dunia kerja. Forum menyimpulkan, sistem pencegahan pelanggaran (berupa adanya sanksi tegas) mutlak dibutuhkan, namun benteng terkuat tetaplah fondasi agama dan moral di dalam dada setiap individu.
“Profesionalisme tanpa tuntunan agama akan kehilangan arah, namun agama tanpa profesionalisme akan membuat kita tertinggal dalam daya saing,” simpul Eddy Supriyadi.
LDII Jaksel: Nasionalisme Harus Berlanjut Menjadi Gerakan
Ketua DPD LDII Jakarta Selatan, H. Mulyono, selaku inisiator acara, menegaskan esensi dan follow-up dari diselenggarakannya forum lintas elemen ini.
“Tujuan utamanya adalah membekali generasi muda dengan pemahaman dan semangat kebangsaan, sehingga mempertebal rasa cinta Tanah Air, persatuan, dan kepedulian terhadap negara. Ini wujud syukur kita menyambut HUT ke-81 RI sekaligus langkah konkret menyiapkan SDM untuk Indonesia Emas 2045,” tegas Mulyono.
Lebih lanjut, Mulyono berharap pemahaman yang didapat tidak menguap sebatas teori. Ia mendorong generasi muda untuk mengejawantahkan nasionalisme lewat sikap proaktif, menjaga kerukunan, dan mencetak karya sesuai bidang masing-masing. Ia pun menjamin, kegiatan pembinaan wawasan kebangsaan semacam ini tidak akan berhenti di sini.
“Insya Allah, kegiatan positif yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan ini akan terus kami lanjutkan dan kembangkan. Tidak hanya sebatas tausyiah, melainkan dalam wujud kegiatan-kegiatan riil di tengah masyarakat,” imbuhnya.


Menutup pernyataannya, Mulyono menitipkan pesan khusus kepada generasi penerus bangsa. “Banggalah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Jaga persatuan dan kerukunan, jangan mudah terpecah oleh perbedaan. Masa depan Indonesia murni berada di tangan Anda. Mari kita wujudkan generasi berkarakter, unggul, dan mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat menuju 2045.”
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukanlah sebatas angka peringatan. Ia adalah titik pembuktian dari kualitas manusia yang kita tempa hari ini. Generasi emas adalah mereka yang tak sekadar unggul secara intelektual, namun juga kokoh integritasnya dan religius karakternya. (*)
