JAKARTA, 15 Agustus 2026 — DPD LDII Jakarta Selatan berkolaborasi dengan MUI Jakarta Selatan menggelar Forum Tausyiah Kebangsaan di Gedung Keumatan MUI Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (15/8/2026). Mengusung tema “Membangun Generasi Muda Profesional, Religius dan Berjiwa Nasionalis”, forum ini menyoroti pentingnya membentuk generasi penerus yang kompeten, berakhlak, serta memiliki komitmen kuat terhadap bangsa dan negara.
Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA mengawali forum dengan mengingatkan kembali sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui keberanian, persatuan dan pengorbanan para tokoh bangsa serta ulama.

Ia menuturkan kembali semangat perjuangan rakyat ketika Indonesia menghadapi ancaman kedatangan Sekutu setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam situasi tersebut, persatuan antara tokoh bangsa, ulama dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam mempertahankan kemerdekaan.
Hidayat juga mengangkat keteladanan Bung Tomo dan Jenderal Besar Soedirman. Soedirman, meski dalam kondisi sakit, tetap memimpin perjuangan dan bergerak dengan ditandu. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang ketika kepentingan bangsa dipertaruhkan.

Pesan sejarah itu kemudian diarahkan pada kebutuhan membangun karakter generasi masa kini.
Wakil Ketua Umum MUI Jakarta Selatan KH. Julian Lukman, Lc menegaskan bahwa generasi muda Indonesia harus memiliki tiga karakter yang berjalan bersamaan, yaitu profesional, religius dan nasionalis.
Profesional berarti memiliki kompetensi, disiplin, integritas dan tanggung jawab. Religius berarti menjadikan nilai agama sebagai fondasi moral. Sedangkan nasionalis berarti memiliki kepedulian terhadap bangsa, menjaga persatuan dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Menurut Julian, generasi muda tidak cukup hanya pintar dan memiliki keterampilan. Kemampuan tersebut harus dibarengi akhlak dan rasa tanggung jawab agar ilmu serta profesionalisme yang dimiliki benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
Perspektif tersebut diperkuat Kasuban Kesbangpol Kota Administrasi Jakarta Selatan Ragil Tugiman yang mengingatkan adanya sejumlah ancaman yang dapat melemahkan ketahanan generasi muda apabila nilai-nilai Pancasila tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ragil menyoroti sedikitnya empat ancaman, yakni terorisme, ancaman ideologi, penyalahgunaan narkoba dan degradasi moral.
Menurutnya, terorisme dapat tumbuh dari pemahaman yang sempit, rasa ketidakadilan dan hilangnya persatuan. Sementara lemahnya pemahaman terhadap nilai kebangsaan dapat membuat masyarakat mudah terpengaruh radikalisme, intoleransi, ujaran kebencian dan konflik berbasis SARA.

Narkoba juga menjadi ancaman serius bagi generasi muda, terutama ketika mereka kehilangan pegangan moral dan tujuan hidup. Di sisi lain, degradasi moral dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari korupsi, hoaks, bullying, pornografi hingga kriminalitas.
Rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti setelah kemerdekaan. Jika generasi terdahulu berjuang menghadapi penjajahan dengan keberanian dan pengorbanan, generasi muda hari ini menghadapi tantangan dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, membangun generasi profesional, religius dan nasionalis menjadi bagian dari perjuangan kebangsaan di era modern.
Forum Tausyiah Kebangsaan LDII–MUI Jakarta Selatan menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan pemerintah untuk memperkuat karakter generasi muda.
Pesannya jelas: kemerdekaan adalah warisan perjuangan, tetapi menjaga masa depan Indonesia adalah tanggung jawab generasi hari ini. Modalnya bukan hanya kecerdasan, melainkan kompetensi, akhlak, persatuan dan jiwa nasionalisme.
(GTM)

kontribusi LDII untuk kolaborasi smua elemen negeri ini