DPW LDII DKI Jakarta dan Depok Kembali Gelar Ta’aruf Kubro 7.0

Jakarta (4/6). DPW LDII DKI Jakarta dan Depok berkolaborasi menggelar ajang taaruf untuk pemuda usia menikah yang ketujuh. Acara itu selain menjadi sarana temu jodoh generasi muda LDII, juga untuk mempererat silaturrahim.

Mengambil tema “Yang Ta’aruf Ta’aruf Aja”, acara itu dilaksanakan selama dua hari pada Sabtu dan Minggu (1-2/6) di Masjid Baitussholihin, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Wakil Dewan Penasehat DPD LDII Jakarta Timur, Herlan Maulana menyampaikan, kegiatan yang dihadiri sekitar 200 peserta ini menjadi peluang generasi muda khususnya usia dewasa muda untuk saling mengenal satu sama lain.
“Kami berharap kesempatan ini menjadi wadah bagi pemuda LDII usia nikah menemukan jodohnya, sehingga bisa membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah,” ungkap Herlan.

Senada dengan Herlan, Ketua Pelaksana M. Khoirudin menambahkan kegiatan itu melibatkan enam DPD LDII se-Jakarta dan Depok.
“Peserta ta’aruf ini terdiri dari Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Depok yang paling jauh. Kami berharap tahun depan bisa melaksanakan kembali karena merupakan program rutin tahunan,” ujarnya.

Khoirudin juga menambahkan, tim pelaksana acara terus memantau, berbagi ilmu, serta membina para peserta hingga jenjang hubungan yang lebih serius.
“Ada tindak lanjut untuk kedepannya yaitu ke jenjang pernikahan. Dan peserta yang ikut dibebaskan memilih calon pasangan,” imbuh Khoirudin.

Selain itu, para peserta dibekali materi persiapan sebelum berkeluarga, antara lain menciptakan keluarga muda bahagia dan mengelola keuangan rumah tangga.

Anggota Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPP LDII Dian Alia Putri yang menjadi narasumber mengatakan, peran suami istri adalah sama dalam membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah.
“Tidak bisa sebelah pihak, karena itu ta’aruf kubro menjadi sebuah peluang bagi seorang perempuan untuk memilih pemimpin rumah tangganya, sementara laki-laki untuk memilih ibu bagi anak-anaknya,” ujar Dian.

Ia juga menekankan, agar calon pengantin perlu mengenali diri sendiri lebih dulu sebelum memilih pasangan. Hal itu dimulai dari keinginan, kekurangan, kelebihan, dan lain sebagainya sehingga mampu menyeimbangkan diri dengan pasangan nantinya.

Dian juga menegaskan kembali bahwa komunikasi dua arah menjadi langkah kecil membangun rumah tangga yang sehat bagi pasangan muda.
“Contohnya, saling mendengarkan, saling memahami, namun hal itu tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Sebab keinginan dan harapan setiap pasangan beda-beda sehingga harus dibicarakan. Seperti rencana, target pencapaian, dan prinsip hidup,” kata Dian.

Kehidupan setelah menikah, kata Dian, ada tiga penyesuaian, yaitu masalah keuangan, pekerjaan rumah tangga, dan pengasuhan anak.

Terkait masalah keuangan rumah tangga, Ratna Suliati Suleiman yang juga turut hadir sebagai pemateri menyampaikan, calon pasangan dan pasangan suami istri harus melek akan literasi finansial. “Pasangan muda harus terbuka dengan riwayat keuangan,” katanya.

Untuk menjaga kestabilan keuangan rumah tangga dikenal prinsip TARIF (Transparency, Accountability, Reliability, Independence, Fairness) yang semuanya, kata Ratna, harus terbuka seperti bukti penagihan dan dilakukan secara adil antar pasangan satu sama lain.

Ratna juga berpesan agar pasangan suami istri bekerja sama menjaga keuangan rumah tangga, sebab menjadi salah satu penopang kehidupan keluarga. Menurut Ratna, perpisahan rumah tangga banyak terjadi, salah satunya karena keuangan, sehingga hal itu harus dijaga sebaik mungkin. Misal sedang masa sulit, maka harus saling percaya dan berusaha mencari peluang penghidupan, jangan hanya berdiam diri.
“Jika suami sedang merasakan kesulitan, istri harus semangat memotivasi suami mencari nafkah. Sebab sustainability keuangan akan menopang sustainability keluarga,” kata Ratna. (eva)

Related posts

Leave a Comment