Jakarta (6/1). Ada pemandangan unik di Aula Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Bina Insan Mulya, Jakarta Selatan, saat malam pergantian tahun. Alih-alih mengenakan pakaian modern, para santri tampak mengenakan busana bertema vintage atau tempo dulu. Suasana klasik ini merupakan bagian dari kegiatan “GRANAT” (GeRAkan Ngaji Akhir Tahun), sebuah inisiatif kreatif untuk mengisi malam tahun baru dengan kegiatan edukatif, religius dan materi persiapan masa depan.
Meski bertema lawas, pesan yang disampaikan dalam agenda ini justru sangat futuristik bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Selain pengajian dalil-dalil agama, panitia menyisipkan sesi kebersamaan berupa nge-grill daging ayam dan sosis serta permainan seru dengan berbagai hadiah menarik. Pendekatan ini dipilih agar pembinaan karakter terasa lebih santai dan akrab, sekaligus menguatkan ukhuwah antar-santri dari berbagai latar belakang daerah.
Pembina PPM Bina Insan Mulya, Firmansyah, memberikan penekanan khusus pada kemandirian ekonomi dan bakti kepada orang tua. Ia berpesan agar generasi muda gigih mencari rezeki yang halal dan menjadikan kekayaan atau “cuan” sebagai sarana beribadah. “Jadikan rezeki itu sarana berbakti kepada orang tua, menaati, menyayangi, membahagiakan hingga mampu mengumrohkan mereka. Awali keberkahan dengan menyerahkan gaji pertama kepada orang tua, serta muliakan keluarga dan istri,” ujarnya di hadapan para santri.
Firmansyah juga menegaskan posisi strategis kegiatan ini dalam kalender organisasi. “Pengajian akhir tahun merupakan agenda rutin LDII di seluruh PC/PAC, sebagai upaya pembinaan generasi muda/penerus di lingkungan PC/PAC LDII,” tegasnya. Menurutnya, kesepakatan antara pengurus dan santri untuk menghabiskan malam tahun baru di pondok adalah bukti kuatnya kesadaran kolektif untuk menghindari kegiatan yang kurang bermanfaat.
Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis (1/1/2026) pagi ini ditutup dengan shalat subuh berjamaah dan ramah tamah. Melalui “GRANAT”, PPM Bina Insan Mulya berharap para santri tidak hanya lulus dengan gelar akademik, tetapi juga memiliki mentalitas “Vintage Values” dalam hal kesantunan dan bakti, namun tetap kompetitif dalam mencari keberkahan ekonomi di era modern. (*)
