Bogor (30/8). Intensitas hujan deras yang tinggi di kawasan Bogor dan sekitarnya memicu luapan air pada sejumlah aliran sungai. Selain kenaikan debit air yang signifikan, tumpukan sampah rumah tangga dan limbah domestik memperburuk kondisi hingga menyebabkan penyumbatan parah di beberapa titik rawan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, luapan air terjadi setelah hujan berdurasi panjang mengguyur wilayah Bogor sejak sore hari. Sampah yang didominasi limbah plastik, ranting pohon, dan kasur bekas menggunung di area cerobong jembatan serta penyempitan aliran sungai. Kondisi ini menahan arus air sehingga menggenangi kawasan pemukiman warga di sekitar bantaran.
Realita ini menegaskan pentingnya kesadaran lingkungan, termasuk dalam lingkup kegiatan kemasyarakatan. Hal tersebut diwujudkan dalam acara Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (PERMATA CAI) 2026 yang dihelat di Villa Kampung Sawah, Caringin, Bogor, pada Sabtu–Minggu (29–30/8). Selama kegiatan berlangsung, tidak ada lagi botol plastik sekali pakai di meja peserta. Seluruh peserta membawa dan menggunakan tumbler yang diisi ulang.
Bagi LDII Gambir, penggunaan tumbler merupakan bagian dari gerakan dakwah ekologis. Pesannya jelas: sampah tidak pernah benar-benar hilang setelah dibuang, melainkan hanya berpindah tempat dan berpotensi kembali sebagai bencana. Menolak plastik sekali pakai bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.
Penasihat LDII Gambir, H. Wahyudi, menegaskan bahwa langkah ini bukan cuma teknis pelaksanaan acara, melainkan bagian dari visi besar membangun kesadaran ekologis warga.
“Targetnya adalah memberikan wawasan lingkungan dan wawasan pangan,” ujar Wahyudi di sela-sela acara CAI 2026.
Menurutnya, kesadaran ekologis harus dibangun dari pemahaman dasar bahwa bumi hanya ada satu. Kerusakan yang terjadi hari ini akan menentukan kelayakan bumi sebagai tempat tinggal generasi mendatang. Ia mengakui, kemampuan organisasi dalam menjaga lingkungan memang terbatas, namun hal itu tak menjadi alasan untuk berdiam diri.
“Sebatas kemampuan yang bisa kita lakukan, kami selalu ingin berpartisipasi menjaga lingkungan,” tegasnya.
LDII terus mendorong berbagai program lingkungan, mulai dari gerakan go green, pengelolaan sampah, hingga upaya perbaikan kondisi alam secara bertahap. Salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan sampah berbasis perubahan sikap.
Wahyudi menyadari mengubah kebiasaan bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, LDII Gambir memilih jalur sosialisasi yang dibarengi dengan praktik nyata. Ia juga mengapresiasi kebijakan panitia yang meniadakan minuman kemasan sekali pakai dalam acara berskala besar. Menurutnya, langkah ini sangat relevan dan tepat sasaran.
“Ini ide panitia CAI Gambir yang sangat bagus. Tidak menyediakan minuman sekali pakai dan memangkas sampah plastik. Alhamdulillah, tahun ini kami tidak menggunakan plastik untuk air minum. Jika biasanya menggunakan air botol atau kemasan gelas, sekarang perlahan warga LDII sudah terbiasa membawa tumbler masing-masing,” jelasnya.

Kepada generasi muda, Wahyudi menitipkan pesan mendasar bahwa bumi tidak memiliki cadangan. Jika rusak, manusia tidak punya tempat lain untuk berpindah. Kesadaran menjaga lingkungan dilakukan demi kelangsungan hidup diri sendiri dan generasi yang akan datang.
Di tengah ancaman banjir dan tumpukan sampah sungai, dakwah ekologis LDII hadir dalam bentuk konkret untuk menggerakkan perubahan melalui satu kebiasaan kecil dalam satu waktu.[ANR]


